Pengukuhan Purana Pura Kahyangan Jagat Pura Pucak Meru

PENGUKUHAN PURANA PURA PUCAK MERU

Paruman Agung Sulinggih Kabupaten Badung dalam rangka Pengukuhan Purana Kahyangan Pura Pucak Meru, Banjar Kasianan, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, pada Selasa, 23 Februari 2021.

Purana adalah suatu tulisan atau prasasti pada daun lontar atau lempeng tembaga yang dapat sudah disalin yang menceritakan kisah di jaman dahulu. Purana berasal dari kata “Pura dan Hana”. “Pura” memiliki arti dahulu dan “Hana” memiliki arti mengatakan. Jadi Purana adalah suatu cerita di jaman dahulu yg masih hidup dan berkembang di masyarakat serta diyakini kebenarannya oleh masyarakat.

Sejarah singkat Pura Pucak Meru pada awalnya menceritakan perjalanan Sang Hyang Abra Sinuhun yang bergelar I Kebo Iwa melakukan perjalanan di pulau Bali. Suatu ketika tibalah beliau disuatu hutan di bawah pohon beringin, tatkala itu beliau bertemu leluhurnya yang bergelar Bhagawan Mangga Puspa. Di tempat tersebut beliau mengeluarkan Bisama agar kelak dikemudian hari setiap manusia yang melakukan “Cangkrama” di bawah pohon beringin agar melahirkan anak kembar dan tabiat anak yang dilahirkan adalah menyerupai sifat raksasa. Sanghyang Abra Sinuhun mendengar sabda dari Tuhan agar melanjutkan yoganya, dalam yoga muncul 5 sumber air dari sebuah goa maka goa itu kemudian diberi nama Goa Meru. Selanjutnya dikemudian hari agar dibangun sebuah Pura di atas Goa Meru dan diberi nama Pura Pucak Meru, demikian kutukan Beliau.

Lebih lanjut dikisahkan dalam Purana, pada masa pemerintahan Shri Aji Jaya Pangus yang didampingi oleh kedua istrinya, sebagai Raja Bali beliau berkeinginan untuk melakukan perjalanan di Pulau Bali dan pada suatu ketika tibalah rombongan Sang Raja disebuah hutan belantara dekat dengan Goa Meru yang banyak ditumbuhi Pohon Kase. Terlihat oleh beliau sebuah goa dan disana beliau melakukan yoga, seketika terdengar sabda dari Sang Hyang Siwa, dititahkan agar Shri Aji Jaya Pangus membangun sebuah Kahyangan sebagai Sthana pemujaan Sang Hyang Siwa. Setelah Pura selesai dibangun, diupacarai pada Sasih Kadasa tepat pada hari Purnama yaitu pada Tahun 1191 Masehi , diberi nama Pura Pucak Meru yang dibangun diatas Goa Meru. Disana dilanjutkan dengan menanam Panca Datu berupa uang kepeng sejumlah 100.000 keteng dan Goa meru ini sebagai tempat pesucian Bhatara di Pura Pucak Meru.
Demikian kisahnya di jaman dahulu.
Setelah beberapa abad lamanya, tepatnya tahun 1489 Masehi maka datanglah dari Gunung Semeru seorang yogi bergelar Danghyang Nirartha. Dalam perjalanan Dharma Yatranya beliau sempat tangkil ke Pura Pucak Meru.
Selanjutnya pada Tahun 1717 Masehi Gunung Batur meletus, yang mengakibatkan banyak terjadi kerusakan baik rumah penduduk, Pura-Pura, termasuk salah satu diantaranya adalah Pura Pucak Meru.
Sehingga Pura itu terbengkalai. Akhirnya pada Tahun 1850 bekas-bekas Pura itu ditemukan oleh I Gusti Kompiang Sidemen, kemudian ada keinginan beliau bersama masyarakat membangun kembali namun lokasinya dipindahkan pada tempat sekarang pada Tahun 1872 Masehi.

Demikian sejarah Pura Pucak Meru secara singkat yang ada di Dusun Kasianan, Desa Pangsan, Kecamatan Petang.

Paruman ini dihadiri oleh Plh. Bupati Badung diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Kab. Badung I Gde Eka Sudarwitha, anggota DPRD Kab. Badung Dapil Kec. Petang I G.A. Agung Inda Trimafo Yudha, Bandesa Madya Majelis Desa Adat Kab. Badung A.A. Putu Sutarja, SH, MH, Ketua PHDI Kab. Badung Dr. Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag, Kepala Kementerian Agama Kab. Badung yang diwakili oleh Kasi Urusan Agama Hindu I Gede Sumarawan, SE., M.Pd.H, Camat Petang I Wayan Darma, S.Sos, M.Si, Kapolsek Petang, Danramil Petang serta unsur perangkat Desa dan Adat di Desa Pangsan.

Acara dilaksanakan tetap dengan memperhatikan protokol kesehatan tanpa mengurangi makna dari acara yang dilaksanakan.

@giri.prasta 
@ketut_suiasa 
@iwayanadiarnawa 
@pemkabbadung 
@humasbadung 
@ppidbadung

Posting Komentar

0 Komentar